Senin, 29 Desember 2008

CARA MEMBUAT BIOGAS YANG MURAH

PEMANFAATAN KOTORAN SAPI MENJADI ENERJI ALTERNATIF

(Pembuatan digester gas bio di komunitas Lo-Rejo, Jerukan, Puluhan, Moyudan, Sleman)

  1. Pengantar

a.Latar belakang

Akhir-akhir ini banyak di tayangkan di media elektronik dan media cetak, gambar dan berita masyarakat kecil yang antri membeli minyak tanah. Demikian pula diberitakan bahwa pemerintah sangat gencar menyerukan dan melaksanakan konversi energi: dari minyak tanah ke gas elpiji (LPG). Pemerintah sudah mulai kebingungan dengan ketersediaan enerji, terutama enerji fosil (bahan bakar minyak), yang mulai menipis; lalu pemerintah mempunyai program mengganti minyak tanah dengan gas LPG (elpiji) yang sebenarnya juga enerji fosil yang tidak terbarukan. Saat ini memang masih banyak, baik pemerintah maupun masyarakat, yang menggunakan enerji yang unrenewable (tidak terbarukan). Bahkan dengan adanya konversi enerji ini, sangat mungkin elpiji merambah sampai pedesaan. Selama ini masyarakat desa memang menggunakan kayu (yang sebenarnya terbarukan), sebagai bahan bakar (enerji). Namun karena pengelolaan hutan (tanaman/pepohonan) yang kurang baik, persediaan kayu juga mulai menipis. Dan saat ini masyarakat desa sudah mulai menggantungkan pada minyak tanah sebagai bahan bakar.

Demi mengatasi krisis bbm ini penghematan penggunaan bahan bakar minyak dan penggunaan bahan bakar alternatif, yang terbarukan, harus dilakukan. Salah satu pilihan dari sekian banyak bahan bakar terbarukan tersebut adalah gas methan. Gas yang berasal dari limbah: sampah dan kotoran ternak yang diproses dalam digester yang kemudian disebut biogas atau gas bio. Bahan bakar ini bisa dibuat dan cocok jika dikembangkan di pedesaan-pedesaan, karena di pedesaan-pedesaan banyak terdapat ternak, seperti sapi, kambing, domba, dan sebagainya, lagipula proses pembuatan dan operasinya tidak rumit.

b. Manfaat:

Instalasi gas bio ini mempunyai banyak manfaat, antara lain:

- Enerji.

Seperti telah disebutkan di atas bahwa saat ini pemerintah dan masyarakat Indonesia mulai merasakan adanya krisis enerji. Selama ini pemerintah dan masyarakat masih terpaku pada penggunaan enerji fosil yang tidak terbarukan, misalnya bahan bakar minyak, gas alam, dsb. Perhatian pemerintah terhadap enerji terbarukan masih sangat sedikit, padahal potensi untuk bahan bakar tersebut cukup besar. Salah satunya adalah gas methan yang dihasilkan oleh ternak: sapi, kambing, babi, ayam, dan sebagainya. Dengan menggunakan digester pengolah kotoran ternak, enerji yaitu gas methan yang dihasilkan cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

- Lingkungan

Manfaat lainnya adalah bahwa dengan menggunakan gas bio, dampak terhadap efek rumah kaca akan berkurang. Seperti diketahui bahwa peternakan juga merupakan penyumbang besar terhadap efek rumah kaca. Proses kimia limbah peternakan di alam terbuka, yang berupa gas-gas akan terbuang percuma ke udara bebas akan menyebabkan efek rumah kaca (pemanasan global). Jika gas-gas hasil proses kimia tersebut, antara lain gas methan, dimanfaatkan menjadi bahan bakar, maka sumbangan gas methan pada pemanasan global bisa diperkecil. Perlu diketahui juga bahwa sisa hasil pembakaran gas methan ini bersih dari polusi dengan emisi karbon dioksida yang sangat kecil.

- Kesehatan

Untuk kesehatan, penggunaan gas bio ini juga berdampak baik. Beberapa syarat dalam menggunakan gas bio adalah kotoran ternak harus bebas dari serat-serat kasar, harus terkumpul (tidak berserakan kemana-mana), dengan lantai yang diperkeras sehingga kotoran mudah dikumpulkan. Karena syarat-syarat tersebut maka kandang akan selalu terjaga kebersihannya. Hal ini akan berdampak pada kebersihan lingkungan kandang dan rumah, sehingga kesehatan ternak dan manusia disekitarnya terjamin.

- Pertanian

Dalam bidang pertanian, sisa atau limbah gas bio, yang berbentuk semacam lumpur disebut slurry, bisa digunakan sebagai pupuk. Pupuk yang berasal dari limbah gas bio ini sangat baik untuk tanaman, karena mengandung unsur hara yang tinggi. Lagi pula tidak membutuhkan proses yang lama untuk bisa digunakan sebagai pupuk, dengan kata lainuntuk menggunakan kotoran ternak sebagai pupuk tidak perlu menunggu terlalu lama.

  1. Teknologi Gas bio

a. Prinsip teknologi gas bio

Gas bio adalah gas yang dihasilkan dari proses fermentasi atau pembusukan bahan-bahan organik oleh bakteri pada keadaan tanpa udara (anaerob). Bahan organik adalah bahan yang bisa terurai menjadi tanah, misalnya sampah dapur, tumbuh-tumbuhan kotoran ternak, dan sebagainya.

Sampah organic tersebut dicampur dengan air (kadang diberi perlakuan tertentu terlebih dahulu) kemudian dimasukkan ke dalam digester. Di dalam digester tersebut terjadi proses hidrolisa dan fermentasi oleh bakteri-bakteri tertentu, yang salah satunya adalah methanogen bacterium.

Gas bio yang dihasilkan antara lain adalah: methan CH4 (60%-70%), karbon dioksida CO2 (20%-30%), oksigen O2 (1%-4%), Nitrogen N2 (0,5%-3%, karbon monooksida CO (1%) dan asam sulfat H2S (kurang dari 1%). Jika mempunyai kandungan methan lebih dari 50%, maka gas bio ini akan mudah terbakar.

b. Potensi gas yang dihasilkan

Gas bio yang terdiri dari gas methan dan gas karbon dioksida ini mempunyai nilai kalor 600 – 700 kkal/m3 atau sekitar 6 kwh/m3. Seekor sapi dewasa rata-rata menghasilkan kurang lebih 10 kg kotoran sapi setiap hari. Untuk menghasilkan 1 m3 gas bio, diperlukan kira-kira 20 kg kotoran sapi. Jadi dalam sehari 1 ekor sapi menghasilkan 0,45 m3 gas bio atau 1 kg kotoran sapi menghasilkan kurang lebih 0,05 m3 gas bio.

Dalam penggunaan sehari-hari, untuk memasak air 1 liter, dibutuhkan 40 l (0,04 m3) gas bio, dalam waktu 10 menit. Untuk menanak ½ kg beras, dibutuhkan rata-rata 0,15 m3 gas bio, dalam 30 menit. Penggunaan sehari-hari dalam rumah tangga dibutuhkan rata-rata 3-4 m3 gas.

c. Konstruksi/desain.

Ada 3 tipe digester gas bio yang dikembangkan selama ini, yaitu fixed dome plant, yang dikembangkan di China, floating drum plant yang lebih banyak dipakai di India dengan varian plastic cover biogas plant dan plug-flow plant atau balloon plant yang banyak di buat di Taiwan, Etiopia, Kolombia Vietnam dan Kamboja.

Bagian-bagian pokok digester gas bio adalah (lihat gambar di bawah): (1) bak penampung kotoran ternak, (2) digester, (3) bak slurry, (4) penampung gas, (5) pipa gas keluar, (6) pipa keluar slurry, (7) pipa masuk kotoran ternak.

· Fixed dome plant

Pada fixed dome plant, digesternya(2) tetap. Penampung gas (4) ada pada bagian atas digester. Ketika gas mulai timbul, gas tersebut menekan slurry ke bak slurry (3). Jika pasokan kotoran ternak terus menerus, gas yang timbul akan terus menekan slurry hingga meluap keluar dari bak slurry. Gas yang timbul digunakan/dikeluarkan lewat pipa gas yang diberi katup/kran (5).

- Keuntungan: tidak ada bagian yang bergerak, awet (berumur panjang), dibuat di dalam tanah sehingga terlindung dari berbagai cuaca atau gangguan lain dan tidak membutuhkan ruangan (diatas tanah).

- Kerugian: Kadang-kadang timbul kebocoran, karena porositas dan retak-retak, tekanan gasnya berubah-ubah karena tidak ada katup tekanan.

· Floating drum plant

Floating drum plant terdiri dari satu digester(2) dan penampung gas (4) yang bisa bergerak. Penampung gas ini akan bergerak keatas ketika gas bertambah dan turun lagi ketika gas berkurang, seiring dengan penggunaan dan produksi gasnya.

- Keuntungan: Tekanan gasnya konstan karena penampung gas yang bergerak mengikuti jumlah gas. Jumlah gas bisa dengan mudah diketahui dengan melihat naik turunya drum.

- Kerugian: Konstruksi pada drum agak rumit. Biasanya drum terbuat dari logam (besi), sehingga mudah berkarat, akibatnya pada bagian ini tidak begitu awet (sering diganti). Bahkan jika digesternya juga terbuat dari drum logam (besi), digeseter tipe ini tidak begitu awet.

· Baloon plant

Konstruksi balloon plant lebih sederhana, terbuat dari plastic yang pada ujung-ujungnya dipasang pipa masuk untuk kotoran ternak dan pipa keluar peluapan slurry. Sedangkan pada bagian atas dipasang pipa keluar gas.

- Keuntungan: biayanya murah, mudah diangkut, konstruksinya sederhana, mudah pemeliharaan dan pengoperasiannya.

- Kerugian: tidak awet, mudah rusak, cara pembuatan harus sangat teliti dan hati-hati (karena bahan mudah rusak), bahan yang memenuhi syarat sulit diperoleh.

  1. Kegiatan dan tujuan program

a. Kegiatan

Dengan melihat latar belakang dan manfaat tersebut diatas, maka tidaklah salah kalau masyarakat pedesaan memanfaatkan kotoran ternaknya sebagai bahan bakar alternatif. Masyarakat desa membuat digester pengolah kotoran ternak dan memanfaatkan gas bio sebagai bahan bakar dan menggunakan limbahnya (slurry) sebagai pupuk. Pemanfaatan kotoran ternak sebagai bahan bakar ini merupakan siklus organik alami yang seharusnya dijaga karena akan berdampak pada keseimbangan ekosistem. Siklus tersebut adalah: ternak menghasilkan kotoran (tlethong), kotoran ternak diproses dalam digester, diambil gasnya (dimanfaatkan sebagai bahan bakar), limbah sisa proses (slurry) nya digunakan untuk pupuk tanaman/rumput, tanaman/rumput merupakan makanan ternak. Ternak kembali menghasilkan kotoran, demikian seterusnya berulang-ulang.

Oleh karena itu untuk memanfaatkan kotoran ternak tersebut sebaiknya dibuat unit digester pengolah kotoran ternak, sehingga sungguh-sungguh bisa dilihat dan dibuktikan kegunaannya.

Adapun tipe digester yang diusulkan adalah fixed dome plant. Tipe ini dipilih karena beberapa pertimbangan:

- Di Indonesia banyak digunakan, sehingga mudah dalam memperoleh referensi dan tukang/pekerja yang berpengalaman dalam pembuatannya.

- Awet, umurnya bisa lebih dari 10 tahun

- Konstruksinya sederhana

- Bahan mudah diperoleh

- Pemeliharaan mudah

b. Tujuan program

Dari kesimpulan di atas maka bisa disebutkan bahwa tujuan dari program ini adalah menyediakan unit digester penghasil gas bio untuk masyarakat/ komunitas Lo-rejo, Puluhan. Sehingga masyarakat tersebut bisa memanfaatkan kotoran ternak sebagai bahan bakar alternatif dan pupuk organik. Diharapkan pembuatan gas bio ini bisa menjadi contoh bagi masyarakat pedesaan lain dan kemudian banyak yang menggunakan bahan bakar alternatif ini.

Selain memanfaatkan gas bio untuk bahan bakar, pada aspek sosial pembuatan digester ini menjadi sarana untuk menambah pengetahuan (transfer pengetahuan) dan pendidikan. Di bidang teknologi, dalam hal ini teknologi tepat guna (appropriate technology), pihak masyarakat (komunitas Lo Rejo) dan lembaga Cinde Laras mendapat transfer teknologi bertambah pengetahuannya, bahwa ada dan bisa diterapkan, teknologi yang cukup sederhana untuk mengolah kotoran ternak menjadi bahan bakar dan pupuk siap pakai. Masyarakat juga diajak untuk belajar lebih jauh tentang material-material yang sesuai dan bermutu, dalam hal ini untuk digester gas bio.

Di bidang lingkungan dan kesehatan, bahwa masyarakat bisa menggunakan bahan dan sarana disekitarnya untuk keperluan sehari-hari (bahan bakar dan pupuk) tanpa merusak dan mengotori lingkungan dan bahkan ramah terhadap lingkungan.

Dalam bidang organisasi, pembuatan digester gas bio mengajak masyarakat untuk menghimpun diri bekerja bersama, mengatur dirinya demi kesejahteraan dan lingkungan. Diharapkan dengan digester gas bio ini masyarakat bisa belar mengorganisir dirinya untuk mengatur penggunaan, pengoperasian dan pemeliharaannya.

  1. Rencana pelaksanaan program.

Dalam pelaksanaan program ini, beberapa hal yang perlu dikemukakan adalah:

a. Konstruksi/desain

Digester yang akan dibuat adalah type fixed dome, sejumlah: 1 unit, dengan kapasitas 9 m3 (2 ekor sapi). Desain dan gambar tehnis ada pada lampiran C.

b. Personil yang terlibat.

Adriyarkara, sebagai desiner, koordinator tehnis dan koordinator lapangan.

c. Monitoring dan evalusai

Demi terlaksananya program ini dengan baik, perlu dilakukan monitoring. Kegiatan monitoring tersebut adalah:

- Pelaksanaan pembuatan

- Pelaksanaan pemanfaatan gas

- Monitoring dan evaluasi

d. Jadwal pelaksanaan pembuatan, garansi dan monitoring

Pembuatan 1 unit digester gas bio ini dilaksanakan dalam 36 hari, kemudiaan diikuti dengan monitoring pemanfaatan dan evaluasi selama 30 hari. Detail jadwal pelaksanaan pembuatan bisa dilihat pada lampiran C.

  1. Anggaran biaya

Untuk satu unit digester gas bio, membutuhkan biaya sebesar: Rp. 18.240.500,00 (Delapan belas juta dua ratus empat puluh ribu lima ratus rupiah) dengan perincian sbb:

No.

Uraian

Jumlah (RP)

1.

Alokasi biaya designer, konsultan, pengawas lapangan

4.575.000,00

2.

Alokasi biaya pembuatan1 (satu) unit biogas

13.665.500,00


Total anggaran

18.240.500,00

Perincian alokasi biaya tenaga pelaksana bisa dilihat pada lampiran A dan perincian pembuatan 1 unit gas bio bisa dilihat pada lampiran B.

  1. Lampiran

A. Alokasi biaya 1 (satu) orang designer, konsultan sekaligus pengawas lapangan.

B. Alokasi biaya pembuatan 1 unit digester gas bio

C. Alokasi waktu pelaksanaan pembuatan 1 unit digester gas bio

D. Gambar desain konstruksi digester gas bio

Lampiran A. Alokasi biaya designer, konsultan, pengawas lapangan







No.

Uraian

jumlah

satuan

harga/sat.

harga total

1.

1 orang designer

1

unit

Rp 1.500.000,00

Rp 1.500.000,00

2.

1 orang pengawas lapangan

40

hari

Rp 55.000,00

Rp 2.200.000,00

3.

Transportasi pertemuan

5

kali

Rp 10.000,00

Rp 50.000,00

4.

Transportasi survey lapangan

5

kali

Rp 15.000,00

Rp 75.000,00

5.

Transportasi & akomodasi monitoring

30

hari

Rp 25.000,00

Rp 750.000,00





Jumlah

Rp 4.575.000,00

Lampiran B. Alokasi biaya pembuatan 1 unit digester bio gas

I. Material











No.

Nama material

jumlah

satuan

harga/sat.

harga total

1.

Batu kali

6,00

m3

Rp 105.000,00

Rp 630.000,00

2.

Batu split 2x3

3,00

m3

Rp 200.000,00

Rp 600.000,00

3.

Bata merah

4.000,00

m3

Rp 350,00

Rp 1.400.000,00

4.

Pasir

8,00

m3

Rp 90.000,00

Rp 720.000,00

5.

Pasir uruk

7,00

m3

Rp 90.000,00

Rp 630.000,00

6.

Semen

50,00

Sak (40kg)

Rp 32.000,00

Rp 1.600.000,00

7.

Trikosal

5,00

kg

Rp 7.500,00

Rp 37.500,00

8.

Besi beton 9mm

3,00

bt

Rp 36.000,00

Rp 108.000,00

9.

Besi beton 10mm

3,00

bt

Rp 36.000,00

Rp 108.000,00

10.

Besi beton 14mm

3,00

bt

Rp 50.000,00

Rp 150.000,00

11.

Pipa air galv. 3/4"

1,00

bt

Rp 55.000,00

Rp 55.000,00

12.

Bendrat

1,50

kg

Rp 10.000,00

Rp 15.000,00





Jumlah

Rp 6.053.500,00

II. Alat pembantu











No.

Nama material

jumlah

satuan

harga/sat.

harga total

1.

Ember

6,00

bj

Rp 4.000,00

Rp 24.000,00

2.

Tenggok/tomblok

6,00

bj

Rp 3.000,00

Rp 18.000,00

3.

Saringan 1/4

2,00

mt

Rp 13.000,00

Rp 26.000,00

4.

Saringan 1/2

2,00

mt

Rp 11.000,00

Rp 22.000,00

5.

Benang

2,00

gl

Rp 1.500,00

Rp 3.000,00

6.

Sekop/cangkul

2,00

bh

Rp 30.000,00

Rp 60.000,00





Jumlah

Rp 153.000,00

III. Material instalasi











No.

Nama material

jumlah

satuan

harga/sat.

harga total

1.

Pipa pvc 3/4 AW

1

bt

Rp 20.000,00

Rp 20.000,00

2.

Pipa PVC 1/2 AW

10

bt

Rp 15.000,00

Rp 150.000,00

3.

Stop kran 3/4"

1

bh

Rp 65.000,00

Rp 65.000,00

4.

Stop kran 1/2"

8

bh

Rp 45.000,00

Rp 360.000,00

5.

Kni 3/4"

5

bh

Rp 3.000,00

Rp 15.000,00

6.

Sok 3/4"

5

bh

Rp 2.500,00

Rp 12.500,00

7.

Sok drad dlm 3/4"

5

bh

Rp 2.500,00

Rp 12.500,00

8.

Klem

15

bh

Rp 1.000,00

Rp 15.000,00

9.

Paku

1

kg

Rp 9.000,00

Rp 9.000,00

10.

lem PVC

1

kg

Rp 25.000,00

Rp 25.000,00

11.

TBA

10

bj

Rp 2.000,00

Rp 20.000,00

12.

Kompor

1


Rp 250.000,00

Rp 250.000,00





Jumlah

Rp 954.000,00

IV. Upah Tahap Pekerjaan










No.

Uraian

jumlah

satuan

harga/sat.

harga total

1.

Perbaikan lantai kandang

15,00

m2

Rp 30.000,00

Rp 450.000,00

2.

Galian tanah

55

m3

Rp 30.000,00

Rp 1.650.000,00

3.

Pasangan lantai

16

m2

Rp 30.000,00

Rp 480.000,00

4.

Pasang bata dome besar

21

m2

Rp 30.000,00

Rp 630.000,00

5.

Pasang bata dome kecil

14

m2

Rp 30.000,00

Rp 420.000,00

6.

Pasang instalasi

1

unit

Rp 250.000,00

Rp 250.000,00

7.

Finishing

51

m2

Rp 25.000,00

Rp 1.275.000,00





Jumlah

Rp 4.705.000,00

V. Konsumsi/u. makan pekerja










No.

Uraian

jumlah

satuan

harga/sat.

harga total

1.

Konsumsi (4x3x30)

360

porsi

Rp 5.000,00

Rp 1.800.000,00





Jumlah

Rp 1.800.000,00


Bisa dalam bentuk makanan






Jumlah Total

Rp 13.665.500,00

VI. Jumlah total : Rp. 13. 665.500,00

Lampiran C. Alokasi waktu pembuatan digester biogas

I. Tahap persiapan












No.

Uraian

jumlah

hari

total


1.

Persiapan: desain, proposal, dsb

1

20

20


2.

Pertemuan pendahuluan

1

5

5


3.

Survey lapangan

1

5

5






30

II. Tahap pelaksanaan pembuatan











No.

Uraian

jumlah

hari

total


1.

Persiapan

1

3

3


2.

Perbaikan lantai kandang

1

3

3


3.

Galian tanah lubang besar

1

9

9


4.

Galian lubang kecil

1

4

4


5.

Lantai

1

5

5


6.

Pasang bata dome besar

1

6

6


7.

Pasang bata dome kecil

1

4

4


8.

Pasang instalasi

1

3

3


8.

Finishing

1

3

3






36












III. Tahap Monitoring

Diperlukan untuk memberikan asistensi teknis tentang pemanfaatan dan perawatan alat, sekaligus sebagai garansi jika terjadi kerusakan atau tidak berfungsinya alat sesuai yang direncanakan.

No.

Uraian

jumlah

hari

total

1

Monitoring dan garansi

1

30

30

Total Alokasi Waktu: 96 (sembilan puluh enam) hari.

Beberapa catatan:

  1. Alokasi untuk designer, konsultan sekaligus pengawas lapangan cukup rasional (untuk item dan volume pekerjaan)
  2. Kebutuhan material tidak bisa mengkritisi karena tidak memiliki pembanding atau pemgalaman menghitung. Di samping itu, gambar teknis tidak ada gambar potongan yang dapat dipakai untuk menghitung tulangan beton / cor. Alokasi dana untuk pengadaan material belum dikritisi.
  3. Alokasi dana untuk tenaga (tukang) dihitung secara borongan, sehingga lebih pasti kebutuhannya. Masalahnya apakah rasionalisasi antara volume pekerjaan dengan jumlah hari dan tenaga kerja sudah rasional?
  4. Alokasi budget belum menyertakan kebutuhan bak penampung slurry (pupuk cair), dan juga kebutuhan sarana tempat untuk pemanfaatan gas (dapur).

Usulan saran:

  1. Pengelola dana dibagi 2 (dua): dana untuk konsultan diserahkan langsung; sedangkan dana untuk pembangunan unit bio gas diserahkan kepada komunitas. Kemungkinan penghematan dana yang dapat dilakukan oleh komunitas akan didorong untuk pengembangan kegiatan terkait.
  2. Proses pengerjaan sarana dirancang agar keterlibatan wakil komunitas bisa optimal untuk proses pembelajaran dan transfer pengetahuan / ketrampilan
  3. Bak penampung luapan slurry yang belum teranggarkan digulirkan kepada komunitas untuk mencari solusinya (melibatkan kelompok tani).
  4. Untuk tahap awal (pilot project) implementasi bio gas dilakukan di 2 (dua) lokasi yakni di Komunitas Lo Rejo (Puluhan) dan komunitas Balak. Di Lo Rejo bekerja sama dengan Bp Ardi sedangkan di Balak bekerja sama dengan Bp. Sarjiyo. Kelebihan dengan Bp Ardi, kita mendapatkan pengetahuan tentang analisis limbah terkait dengan jumlah kalori yang dihasilkan serta kalkulasi peluang pemanfaatannya. Sedangkan dengan Bp Sarjiyo, kita mendapatkan penawaran yang lebih murah dari sisi pendanaan untuk pengadaan unit bio gas. Dengan bekerja sama dengan kedua pihak tersebut, kita memperoleh pembelajaran yang dapat dikomparasikan.
  5. Dukungan dana lembaga yang dikontribusikan pada komunitas mencakup dana untuk pengadaan infrastruktur bio gas dan pengadaan 1 (satu) ekor sapi.

Informasi proses persiapan di komunitas

1. Lo Rejo:

Ø Calon pelaksana (tenaga) penggemukan sapi ada 2 orang: Widarto (Kriyip, Jerukan) dan Saryono (Jitar). Penjelasan lanjut pada calon pelaksana akan dilakukan secepatnya oleh Mas Yuli dan Pak Warto.

Ø Konsepsi tentang integrasi program dan model pengembangan ke depan sudah didiskusikan 2 kali, perlu dirumuskan hasilnya sebagai draft konsep dan didiskusikan lanjut dengan melibatkan management (direktur program), dilaksanakan sebelum pertengahan November 07

Ø Studi banding (untuk pembekalan dan motivasi pelaksana) akan dilakukan hari Selasa, 6 November 07 ke daerah Magelang.

Ø Sosialisasi ke komunitas utamanya kelompok ternak sapi yang telah ada akan dilakukan dalam waktu dekat.

Ø Dana pengembalian sapi perguliran (sekitar 16 juta dan tidak ada yang memanfaatkan lagi untuk perguliran lanjut) akan diinvestasikan untuk pembelian sapi program penggemukan ini, ditambah dana forum sejumlah 10 juta. Nantinya akan ada kurang lebih 5 ekor sapi + 1 ekor berasal dari dana pilot project, dikelola oleh 2 orang.

Ø Direncanakan pembangunan sarana bio gas dapat dilaksanakan mulai pertengahan November 2007

2. Balak

Ø Kesepakatan pengurus kelompok Balak instalasi bio gas direkomen-dasikan di dusun Getasan.

Ø Rencana pemanfaatan bio gas disepakati untuk fasilitas kegiatan ibu-ibu dengan alternatif pembuatan kue, pengolahan katul, atau kemungkinan pembuatan tahu.

Ø Sudah digagas pula kemungkinan kebutuhan ke depan yakni replikasi instalasi bio gas yang harus dijawab oleh kelompok Balak Gumregah baik dari sisi teknis pengadaan (konstruksi), pendanaan, dan sistem korporasi usahanya.

Lampiran C. Gambar desain konstruksi digester gas bio

3 komentar:

  1. Assalamualaikum
    Salam kenal ya mas, saya juga ternak sapi dan saya juga kepingin bisa membuat biogas sendiri, mohon bantuan njenengan ya mas seno. Saya orang tulis batang
    Ini nmr hp saya 085271106682

    BalasHapus
  2. Terimakasih infonya sangat membantu

    BalasHapus
  3. Assalamualaikum.... salam kenal ya mas,,,saya siswa SMK pernah melakukan praktik cara membuat biogas, tapi saya tidak berhasil menyalakan gasnya ke kompor, apa faktornya tidak bisa menyala mas... mohon bantuannya mas....

    BalasHapus